Proses Kelahiran Partai Pemersatu Bangsa

Teori Barat yang kemudian dibawa keAsia Tengah mengindikasikan bahwa agar bisa menjadi sebuah kelompok yang teruji, maka proses pembentukan sebuah partai polotik, haruslah mendapat petunjuk untuk dapat memahami ideologi kebangsaan. Seseorang yang mempunyai kemampuan berfikir yang tinggi dan perasaan yang peka akan mendapat petunjuk untuk memahami ideologi. Seterusnya ia akan menggeluti dan mendalami ideologi tersebut hingga ideologi itu menjadi sangat jelas baginya dan mengkristal dalam dirinya. Pada saat itulah muncul kader pertama dari partai politik. Tidak berapa lama kemudian kader-kader lain bermunculan. Maka pada saat itu terbentuktah kelompok kecil bagi kelompok kepartaian ini yang sekaligus merupakan pimpinan partai. Ideolagi merupakan satu-satunya poros dari kelompok orang orang ini, dan juga merupakan satu-satunya kekuatan yang menarik mereka untuk berkumpul di sekitar ideologi itu.

Anggota kelompok pertama ini biasanya berjumlah relatif kecil dan pada mulanya bergerak lamban. Karena meskipun ia mengungkapkan perasaan masyarakat tempat ia tinggal.Tetapi pengungkapannya menggunakan lafas-lafas dan pengetian-pengertian yang berbeda dengan apa yang biasa ia dengar di masyarakat. Kelompok ini mempunyai persepsi baru yang berlawanan dengan persepsi masyrakat umum, sekalipun ia merupakan ungkapan dari perasaan masyarakat itu sendiri. Tidak heran apabila kelompok pertama akan seakan (erasing dari masyarakat. Tidak akan bergabung ke dalamnya kecuali orang-orang yang mempunyai nurani yang kuat sampai pada batas tertentu di mana tercipta suatu daya tarik kepada magnet ideologi yang telah terinternalisasi ke dalam kelompok kecil tersebut.

Biasanya pemikiran kelompok pertama atau pimpinan partai itu cukup mendalam dan metode kebangkitannya mendasar, yaitu bermula dari aspek yang mendasar pula. Oleh sebab itu pimpinan partai itu akan terangkat dari keadaan buruk dari tempat kehidupan masyarakat. Dia ibarat' terbang ' di alam (suasana) yang lebih tinggi dan mampu melihat realitas masa depan yang harus dicapai oleh masyarakat, yakni mampu melihat kehidupan baru di mana masyarakat akan diubah kearah keadaan yang lebih baik. Dia juga dapat melihat jalan yang harus dilewatinya dalam mengubah realitas yang ada.

Sementaraitu, Negara Kesatuan Republik Indonesia adalahlahirdari sebuah emosi persatuan yang kental. Persatuan dan kesatuan itu diproklamasikan oleh para pendahulu kita dengan tetesan darah, dan cucuran air mata. Tetapi, Negara Kesatuan Republik Indonesia kinijustru menghadapi bahaya paling gawat dalam soal kesatuan dan persatuan itu tadi. Gerakan pemisahan diri baik secara terselubung maupun yang terang benderang

muncul di beberapa belahan Ibu Pertiwi. Mengapa rasa kesatuan muiai goyah? Jawabnya sederhana. Setelah

kemerdekaan dicapai, penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bemegara kehilangan roh yang paling hakiki, yaitu keadilan.

Perjalanan kebangsaan dan kenegaraan Indonesia adalah sebuah paradoks. Ketika negara belum terbentuk, muncul roh persatuanyang sangat kuat. Tetapi ketika negara lahir, persatuan adalah sebuah formalitas. Yang sangat menonjol dewasa ini adalah munculnya roh-roh partisan. Roh-roh ini merasuki semangat pemerintahan pasca kemerdekaan sehingga Indonesia semakin hari semakin sempit dalam pemahaman anak negeri. Maka menjadi tidak aneh apabila keadilan, kejujuran, wawasan kebangsaan tidak lagi menjadi prioritas dalam kehidupan berbangsa dan bemegara.

Padahal, negeri ini sebenarnya sudah berada diambang bahaya. Ibaratnya, kita seperti orang yang sedang mengangkat barbel seberat 30 kilogram. Kalau berat barbel itu ditambah satu ons saja, kita sudah tidak kuat lagi menerima beban itu. Mungkin yang terjadi adalah perubahan secara revolusioner, namun bisa juga evolosioner. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berada 'diambang perpecahan. Penyebabnya adalah proses demokratisasi yang kebablasan, kepemimpinan nasional yang lemah, pemberantasan korupsi pejabatyang cuma setengah hati, sikap kurang peduli yang diperlihatkan para penyelenggara negara, semakin kurang harmonisnya hubungan pusat dengan daerah, semakin maraknya kesulitan ekonomi. Hal ini ditandai oleh makin tingginya ting katpengangguran dan kriminalitas.

Tidak hanya di bidang politik di mana Indonesia masih dalam tahap berjuang menegakkan demokrasi, maka di bidang ekonomi justru yang paling memprihatinkan. Sekarang ini bangsa Indonesia dililit utang luar negeri yang luar biasa parah yakni sekitar Rp 1600 trilyun. Sebesar47,3% dari utang luar negeri Indonesia adalah utang luar negeri pengusaha swasta yang dijamin pemerintah. Sementara restrukturisasi ekonomi tidak cukup menggembirakan bahkan bertambah parah. Hal ini disebabkan oleh kepentingan asing yang selalu menguntitdi belakang retrukturisasi.Di balikitu.terindikasikuatadanya keengganan investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Jangankan investor baru, sedangkan yang lama saja rame-rame hengkang dari Indonesia?

Sebenarnya apa yang menjadi kendala bagi mereka (para investor), tiada lain diantaranya ialah faktor keamanan, lemahnya penegakan hukum (law enforcement), sistem upah buruh dan pungutan liar (pungli) yang luar biasaa dahsyat. Sehingga faktor kenyamanan, keamanan dan ketentraman menjadi pertimbangan yang seriusbagi para investor. Kondisi bangsa yang demikian mengenaskan itu masih lagi diperpuruk oleh gencarnya pelaku-pelaku korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) serta maraknya peredaran narkoba di tengah masyarakat khususnya generasi muda. Selain itu, masih seabrek masalah yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini, yang kelihatannya pemerintahan sekarang tak mampu lagi untuk mencari terobosanjalan keluarnya. Dalam suasana kebatinan seperti itu lahirlah Partai Pemersatu Bangsa (PPB) yang dideklarasikan di Ibukota Negara pada tanggal 18 Juni 2001. Kelahirannya mirip ketika Indonesia mempersiapkan diri menjadi negara merdeka dan berdaulat.Kompleksitas masalah yang ditandai problematik internal, regional, dan internasional, tak kunjung dengan muda.h untuk bisa diselesaikan. Satu masalah belum dapat diselesaikan, tiba-tiba muncul masalah yang baru. Jadi proses kelahiran Partai Pemersatu Bangsa bukan karena latah, yang setiap orang bisa dengan mudah dapat mendirikan sebuah partai di alam kebebasan ini. Tetapi, kelahirannya ditandai oleh sebuah komitmen ynag kuat yakni berjuang bersama rakyat untuk menjawab tantangan bangsa ke depan, dalam mewujudkan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945 ialah masyarakat adil, makmur, dan sejahtera.

Partai Pemersatu Bangsa lahir di tengah suasana bangsa dan negara berada dalam ambang situasi krisis multidimensi, juga terancam disintegrasi. Sepertinya Indonesia mengidap polarisasi internal, tidak saja sekedar pemetaan geografis dan administrasi negara, tetapi sekaligus pengukuhan sebuah ketidakadilan yang dasyat. Juga pengukuhan perilaku korupsi dari kekuasaan yang begitu sempuma. Indonesia secara faktual lebih didominasi unsur yang memisahkan daripada yang menyatukan. Karena itu, tiada lain Indonesia membutuhkan sebuah pemerintahan yang nonpartisan dan memiliki komitmen yang sungguh-sungguh terhadap tegaknya keadilan.

Sebagai kekuatan politik yang lahir berbarengan dengan situasi dan kondisi negara yang carut-marut, akan berupaya mengaktualisasikan diri dalam proses pembangunan dan demokrasi yang sesuai dengan norma dan etika berbangsa. Misalnya mendorong proses akselerasi perkembangan politik yang menuju ke arah terciptanya sistem politik yang ideal dan dapat diandalkan. yaitu demokrasi Pancasila.

Dalam beberapa tahun terakhir orang menjadi alergi menyebut Pancasila, apalagi mengamalkannya. Pantassaja dalam beberapa tahun terakhir negara selalu mudah menjadi gonjang-ganjing karena perekat bangsa yakni Pancasila tidak pemah diucapkan oleh para elite apalagi mengamalkannya secara utun.

Untuk upaya-upaya ini Partai Pemersatu Bangsa ke depan harus mendorong terwujudnya kondisi kwalitatif dalam kehidupan politik masyarakat. ketentraman dan kedamaian, keterjaminan hak-hak asasi warga masyarakat, keadilan serta rasa dihargai untuk berpartisipasi. Bersamaan dengan permasalahan diatas maka Partai Pemersatu Bangsa dalam program jangka panjang harus lebih mencerminkan sikap responsif terhadap aspirasi dan keinginan masyarakat Mungkin ada yang pesimis dengan pendapat ini mengingat Partai Pemersatu Bangsa relatif muda belia dan belum pemah teruji keandalannya dalam kancah percaturan politik nasional. Tetapi, bagaimana pun jajaran Partai Pemersatu Bangsa mesti terbangun untuk mampu mengaktualisasikan porgarm-program tersebut baik jangka pendek maupun jangka panjang.